Stevan’s Teritory Weblog

Everything in here. Enjoyed it!

COKLAT VINA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terima Kasih Kepada Vina Yang Telah Bersedia  Memberikan Kisah Hidupnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

COKLAT VINA

 

Suatu hari, ada sebuah desa yang harmonis dan damai. Nama desa tersebut ialah North Village.

Di desa tersebut tinggalah seekor Panda dan seekor Beruang. Panda tersebut bernama Pan, Pan si Panda dan Beruang tersebut bernama Vina, Vina si Beruang. Pan si Panda hidupnya sangat sederhana sekali. Ia tidak bisa bela diri. Ia sangat lemah. Karena lemahnya ia tidak bisa bekerja keras. Ia mendapatkan makanan dari tetangganya, Vina si Beruang.

Pada suatu hari, ketika ia sarapan, ia diberi beberapa coklat oleh Vina. Ketika ia memakannya, Vina berkata:

Vina:

Bagaimana rasanya?   

Pan:

Enak sekali! Siapa yang membuatnya?

 

Kemudian Pan berkata lagi:

Pan:

Ini enak sekali! Aku punya ide untuk ini! Bagaimana kalau kamu membuatnya lebih banyak lagi?

Vina:  

Untuk apa?

Pan:

Pokoknya ada sesuatu yang bagus akan terjadi!

Vina:

Baiklah!

 

Setelah Vina membuat banyak coklat-coklat, Pan mendirikan sebuah toko kecil, toko coklat. Vina tidak menyangka bahwa coklatnya begitu laris terjual.

Suatu saat, Pan ingin pergi ke kota untuk belajar bela diri. Dengan keuntungan dari  berjualan coklat, Pan akhirnya pamit dengan Vina.

Pan:

Vina, aku telah mempunyai cukup uang untuk mewujudkan impianku di kota. Aku harus pergi sekarang! Jadi, jagalah toko ini dan jangan lupakan aku! Good-bye Vina!

 Vina:

Okay, aku akan jaga toko ini. Hati-hati di perjalanan Pan! Good-bye Pan!

 

Akhirnya Pan dan Vina berpisah.

Sesampainya di kota, Pan menghabiskan semua uangnya untuk belajar semua bela diri. Keberuntungan menyertai Pan. Ia langsung menemukan tempat latihan karate yang terkenal. Ia berkenalan dengan ketua Master karate tersebut. Namanya Coco si Beruang. Ia sangatlah hebat. Dialah yang menyelamatkan Ibu kota dari serangan pasukan-pasukan tikus dan mengusir para pasukan-pasukan tikus dari Ibu kota.

Suatu hari, ketika hari itu hari Thanksgiving, Coco dan Pan bersahabat baik. Ketika hari itu, Coco datang ke kediaman Pan. Dan bercerita panjang lebar tentang kehidupannya, dan kehidupan Pan.

Coco:

Pan! Aku dengar kamu berasal dari North Village di seberang ya?

Pan:

Iya! Aku lahir dan besar disana.

Coco:

Oh, senangnya bisa ketemu dengan kamu, Pan! Aku juga lahir disana, tetapi aku besar disini, di Ibu kota. Kamu kenal sama beruang yang namanya Vina?

Pan:

Vina? Kenal kok! Memangnya kenapa?

Coco:

Oh! Tidak apa-apa kok! Dia itu sangat hebat! Dia selalu berusaha keras dan pantang menyerah! Yang aku tahu, ia sangat suka terhadap coklat, dan ia ingin sekali menjadi pembuat coklat terbaik di negri ini.

Pan:

Iya! Ia ingin sekali menjadi pembuat coklat terbaik di negri ini! Dan ia telah berhasil! Dan aku telah membantunya membuat toko coklat. Dan ia senang sekali!

 

Saat itu, hujan langsung turun dengan lebatnya.

Pan:

Coco! Rasanya hujan sangat deras, dan hari sudah malam. Bagaimana kalau Coco bersedia menginap di kediaman ku ini?

Coco:

Okay, terima kasih atas kebaikannya. Pan! Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada mu. Tetapi aku sekarang sudah ngantuk sekali! Besok akan aku ceritakan. Okay! Met tidur!

Pan:

Okay, met tidur! Jangan lupa matiin tuh TV nya!

 

Malam telah berlalu. Esok paginya, ketika sarapan sudah selesai, Coco bercerita tentang hidupnya kepada Pan:

Coco:

Pan! Aku menyesal telah menikahi Mary!

Pan:

Jangan begitu!

 

Coco kembali bercerita.

Coco:

Aku sebenarnya cinta kepada Vina. Vina dan aku merupakan sahabat semenjak kami kecil. Kami senang dan gembira bersama-sama. Tetapi karena aku pindah ke Ibu kota dan ia tidak tahu kepergian aku, aku menjadi pindah kelain hati. Ke hati Mary. Ini semua salahnya aku! Aku teralu memikirkan uang di kota ini! Aku menikah dengan Mary karena ia kaya! Ia seorang pemilik Bank Internasional Islanosky. Waktu itu aku buta dengan cinta. Yang aku pikirkan cuma uang! Uang! Dan uang! Aku disadarkan ketika Vina bersedia mengunjungi ke pesta pernikahan kami untuk memberikan selamat kepada kami, tetapi setelah dia memberikan selamat, dia pergi keluar sambil menangis. Sudah terlambat bagiku untuk membatalkan pernikahannya, karena 25 menit sudah berlalu untuk membatalkan janji pernikahan kami. Itu masa lalu aku. Sekarang aku harus benar-benar mencintai Mary apa adanya dengan segenap hati ku.

Pan:

Wah! Cerita yang menarik sekali! Kamu memang harus mencintai Mary dengan segenap hati mu walaupun kamu lebih mencintai Vina dari pada Mary. Aku tidak menyangka Vina mempunyai masa lalu yang buruk.

Coco:

Apa!

Pan:

Bercanda Co, bercanda. Hehehehehe…

Coco:

Iya sih ini memang salahnya aku membuat Vina menderita. Kalau kamu bertemu dengannya, sampaikan salam aku. Okay!

Pan:

Okay Co! akan aku sampaikan.

Coco:

Okay, aku harus pulang sekarang. Terima kasih atas keramah-tamahan kamu, Pan. Tapi jangan lupa besok pagi latihan lagi. Jangan lupa!

Pan:

Yah… iya-iya, besok aku latihan lagi deh! Bye Co!

Coco:

Bye!

 

Ketika Pan sudah menjadi Master dan sudah menguasai semua bela diri selama 10 tahun, ia mendapat kabar dari mata-mata Coco bahwa desanya diserang oleh kerajaan tikus dan ia khawatir keadaan Vina si Beruang.

Coco:

Ada apa Nick!

Nick:

Lapor! Pasukan tikus dan Rajanya menyerbu North Village, desa tuan Coco!

Coco:

Apa! Aku akan kesana!

 

(diam-diam Pan masuk)

Pan:

Desa kita diserang? Aku Pan! Aku akan ikut dengan Coco untuk membantu melawan pasukan tikus dan Rajanya!

Coco:

Kamu yakin?

Pan:

Yakin!

Coco:

Okay! Ayo kita bergegas kesana!

 

(tiba-tiba Mary masuk untuk menghalangi kepergian Coco)

Mary:

Sayang! Jangan lakukan ini! Biarlah Pan yang bertarung sendirian! Dia kan sudah menjadi Master sekarang!

Coco:

Tidak sayang! Aku juga ada urusan dengan si penguasa tikus.

Mary:

Tapi… Okay, kalau begitu aku juga ikut bersama kalian! Aku kan juga Master! Aku akan mati untuk melindungi Coco ku tersayang. Mau atau tidak mau, aku harus ikut bersama kalian!

Coco:

Okay-okay, kamu akan ikut dengan kami. Kita bertiga harus saling melindungi dan saling bekerja sama! Okay!

Pan & Mary:  OKAY!

 

Setelah itu, mereka sarapan dan akhirnya pergi ke North Village untuk membunuh Sang Raja tikus.

Saat Pan, Mary dan Coco di perjalanan menuju desanya, North Village, pada sebuah hutan, Mary melihat sekelompok pasukan tikus berbaju merah.

Coco:

Itu adalah pasukan terakhir yang akan menyerang desa! Sial! Desa kita sudah diserang! CEPAT! Kita harus segera ke desa! Mary, Pan! Kalian serang dari sebelah kanan dan kiri! Aku akan menyerang dari arah belakang!

 

Mereka semua menyerang pasukan berbaju merah itu.

Pan:

Coco! Kamu yakin kita bakal sampai tepat waktu!

Coco:

Awas! Di belakang mu! Konsentrasi Pan, konsentrasi!

Pan:

Makasih Co!

 

Akhirnya mereka semua telah berhasil mengalahkan pasukan berbaju merah tersebut. Mereka akhirnya sampai di desa.

Coco:

Sial! Desa kita telah dihancurkan! Aku ada rencana! Pan! Kamu pemberani! Kamu serang dari depan! Mary, kamu serang jarak jauh dari rumah itu! Kalau Pan membutuhkan kamu, lawanlah mereka! Aku akan melawan Raja tikus itu dari belakang.

Pan:

Okay! Ayo kita berangkat!

Mary:

Let’s go!

 

Ketika mereka telah bersiap pada posisi,

Pan:

Mary, kamu serang duluan!

Mary:

Okay!

 

(Mary melakukan serangan pertamanya)

Pan membunuh banyak pasukan musuh.

Pan:

Mary! Kesini! Mereka sudah mengetahui keberadaan kamu! Gunakanlah gondola itu!

Mary:

Okay!

 

(disamping itu Coco mengendap-endap ketempat Raja tikus)

Coco:

Hahahahaha… Matilah kau, brengsek!

 

Akhirnya Raja pun mati. Coco akhirnya membuka topeng raja tersebut dan berteriak,

Coco:

Apa! Ini bukan raja yang asli! Ini palsu! Ini Cuma prajurit biasa!

?????:

hahahahaha… Sudah lama tidak ketemu Coco, semenjak pertarungan kita terakhir di Ibu kota. Sekarang rencana ku yang sempurna ini telah berjalan. Hahahahaha…

Coco:

Siapa kau! Dimana kau! Tunjukan rupa mu!

Sang Raja:

Hahahahaha… Aku disini! Di rumah Vina! Sekarang aku telah mendapatkannya! Hahahahaha…

Pan:

Vina!

Coco:

Siapa kau! Kenapa kau menginginkan Vina!

Sang Raja:

Hehehehehe… Belum tahu siapa aku? Lihatlah baik-baik!

 

(Sang Raja kemudian melepaskan topengnya)

Coco:

Apa! Kamu ini Andrew si Beruang? Lihat! Vina sudah tidak mencintai engkau lagi! Kenapa kamu terus memburu Vina!

Raja Andrew:

Engkau tidak mengerti apa itu cinta! Yang kamu tahu tentang cinta adalah uang! Ya kan!

Mary:

Apa! Jadi kamu… Oh… Tidak…!!! Kamu menikahi aku karena demi kekayaan aku saja! brengsek kamu Coco!

Coco:

Tunggu Mary! Aku jelaskan nanti!

Mary:

Gak ada yang perlu dijelaskan lagi! Aku akan pulang! Kalian sendiri aja yang melawan tuh Raja brengsek!

Raja Andrew:

Apa? Brengsek? Jendral! Suruh pasukan kepung mereka! Tidak ada yang satu pun boleh keluar dari desa ini!

Jendral:

Pasukan! Kepung mereka!

 

Semua prajurit-prajurit itu akhirnya mengepung Mary, Coco dan Pan.

Coco:

Mary! Kita harus bersatu untuk melawan mereka!

Mary:

Apa! Bersatu dengan pengkhianat brengsek seperti engkau? Aku lebih baik melawannya sendiri!

Coco:

Mary! Tunggu!

 

(sesuatu yang tak terduga terjadi)

Mary:

Pan! Di belakang mu! Awas!

 

Mary pun mendorong Pan dan menangkis serangan dari Jendral tersebut. Mary tidak kuat menahan serangan Jendral itu. Tiba-tiba dari atas terlihat prajurit tikus ingin menghantam Mary. Tiba-tiba Coco meloncat untuk melawan pasukan itu. Coco berhasil membunuhnya. Tetapi Coco terpeleset dan jatuh menghantam pedang Jendral yang ditahan oleh Mary.

Pan & Mary:

TIDAK!!!

 

Pan dengan kekuatannya membunuh Jendral yang terkunci oleh Mary. Mary pun terbebas.

(Mary mencabut pendang yang menancap di tubuh Coco)

Mary: 

Coco! Kenapa kamu menyelamatkan aku!

Pan:

Mary! Bawa Coco pergi dari sini! Aku tidak kuat melawan prajurit-prajurit ini sendirian untuk melindungi kalian!

Mary:

Okay!

 

Mary pun membawa Coco masuk kedalam sebuah rumah.

Mary:

Kenapa! Kenapa Coco harus menyelamatkan aku! Hiks…

Coco:

Mary, aku sekarang sangat mencintai kamu. Aku melindungi kamu karena ada bayi kita di kandungan kamu. Aku ingin bayi kita dinamakan seperti Pan yang pemberani. Jagalah dirimu Mary. Tanyalah pada Pan. Aku sudah menceritakan seluruh hidup ku kepada Pan. Lindungilah Pan!

 

Sesaat itu pula, Coco meninggal dunia. Dan Mary hanya bisa menangis terus. Agak lama kemudian, Mary mendengar Pan minta tolong dan Mary pun menghapus air matanya.

Pan:

Mary tolong aku!

Mary:

Pan! (oh ya, aku harus membantunya!)

 

Sesaat setelah Mary keluar dari rumah itu, Mary terjebak oleh sihir Raja Andrew.

Mary:

Pan! Ada apa ini! Bagaimana ia mempunyai kekuatan seperti ini?

Pan:

Gak tau!

Raja Andrew:

Hahahahaha… aku ini dulunya adalah beruang. Tetapi karena aku dijadikan tikus oleh suami kamu, aku mendapatkan kekuatan sihir!

Mary:

Bagaimana Coco bisa menyihir kamu, sedangkan dia tidak ada kekuatan sihir sama sekali!

Raja Andrew:

Hahahahaha… Suami kamu itu tergila-gila sama uang! Yang akhirnya ia menikahi kamu hanya demi uang. Dia…

 

(Pan menyela)

Pan:

Tidak! Itu tidak benar! Coco dulu memang cinta terhadap uang, tetapi karena temannya, akhirnya ia bisa memahami cinta dan ia benar-benar mencintai mu Mary!

Raja Andrew:

Diam! Siapa kau ini anak muda? Aku baru pertama kali mengenal kau. Oh ya… Kau muridnya Coco kan? Ternyata hebat juga suami mu Mary! Dia bisa menciptakan seorang Master! Masa bodoh dengan mu Ksatria!

 

(Raja Andrew meneruskan kembali ceritanya)

Raja Andrew:

Dulu Coco dan aku tergila-gila sama uang. Kami bermaksud mencuri harta di Kuil Utara itu. Tetapi kesialan menimpa diriku. Kutukan mengenai aku dan suami kamu melarikan diri. Suami kamu itu pengecut! Setelah dia kehilangan harta yang dia curi, kekayaannya habis. Dia bermaksud menikahi kamu hanya agar kekayaannya kembali lagi. Nasib aku berubah menjadi tikus. Aku akhirnya membuat pasukan-pasukan tikus untuk membunuh suami kamu dan merebut kembali Vina.

Pan:

Apa! Aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi!

Raja Andrew:

Prajurit! Bawa Vina ke Istana! Aku akan bersenang-senang dengan Vina! Hahahahaha…

Pan:

Vina! Tidak! Lepaskan aku!

Vina:

Pan, tolong aku Pan!

?????:

Tidak secepat itu!

Raja Andrew:

Aaargghh!!!!

 

Ternyata Nick menyerangnya dari belakang dan Raja Andrew mati dan pasukan-pasukannya berubah menjadi tikus biasa dan melarikan diri.

Mary:

Nick! Terima kasih! Kenapa kamu datang?

Nick:

Aku punya firasat buruk mengenai Master-master aku. Omong-omong, dimana Coco?

Mary:

dia sudah meninggal. Dia tertusuk oleh pedang Jendral tikus.

Nick:

Ooh… Maaf… Maafkan  aku telah datang terlambat.

Mary:

Tidak apa-apa Nick. Ini sudah takdir.

 

(10 hari kemudian)

Vina:

Pan, Mary dan Nick, terima kasih telah menyelamatkan desa kami ini. Apa jadinya hidup ku tanpa kalian.

Mary:

Tidak apa-apa kok. Lagi pula ini tugas kami untuk membebaskan diri dari penjajahan para tikus. Ayo kita bangun kembali desa ini! Nick! Kembali ke kota dan bawa semua orang-orang kita ke sini! Setelah itu kita semua pergi ke pemakaman Coco untuk mengenangkan jiwanya.

Nick:

Okay! Nick akan pergi ke kota.

 

Setelah Nick kembali ke desa dan membawa banyak orang untuk membangun kembali North Village, mereka semua pergi ke pemakaman Coco.

Mary:

Coco, aku telah mendengarkan semua cerita dari Pan tentang kamu. Aku tidak menyangka kamu begitu sayang sama aku. Maafkan aku Coco waktu itu. Aku tidak tahu kalau hasilnya akan menjadi begini. Dan aku akan membesarkan bayi ini sesuai keinginan kamu.

 

Satu tahun kemudian dari peristiwa tersebut, Mary akhirnya menjadi Master di perguruan Coco. Ia yang mendidik semua calon-calon Master yang baru. Nick yang hanya seorang mata-mata biasa, dia menjadi ketua kelompok di perguruan Coco. Sekaligus dia yang mengasuh anak Coco dan Mary.

Pan yang dulunya lemah dan pengecut, sekarang telah menjadi kuat dan pemberani. Sekarang Pan masih di desanya, North Village sambil mengembangkan bisnis coklatnya bersama Vina. Dan Vina terus mencoba-coba membuat coklat dengan variasi yang baru agar tercipta coklat yang sempurna. Dan ia telah menjadi juara satu dalam kontes pembuatan coklat terbaik di dunia.

Sekarang Pan, Vina, Mary, Nick dan penduduk desa maupun kota, akhirnya hidup bahagia selamanya.

 

 

 

 

 

 

 

FIN

January 31, 2008 - Posted by | Fairytales

No comments yet.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: